kulihat hanya sepi tumbuh rimbun di tubuh harimu
rindu terarsir jarak yang bimbang,
guguran daun kering setia mengotori teras kamar
yang kau tutup rapat-rapat, dan rumput halaman
tumbuh dalam diam tanpa angin atau air hujan
seperti malam lalu
ketika memenuhi undangan pesta perayaan milikku,
kau pamerkan gelap menjadi identitasmu,
di sela riang irama musik dansa
kau tampak kedinginan tanpa sepi
di sampingmu hanya tas sewarna gaun gelapmu,
di hiasi pita besar pada bagian dada dengan warna senada.
kau belajar menikmati diri sendirian, berdansa sendiri
dengan kediaman arogan di rautmu.
keindividuan terlihat khidmat dengan kesunyiannya,
dan ketika musik berhenti
kau gemar berdiri di sudut ruangan, mereguk sepi di segelas bir
tanpa mata atau bisik selain dirimu
mungkin gelap yang tampak di setiap sajakmu
tak ubahnya pita hitam, yang lahir dari balik
tempat ia tersematkan pada gaunmu.
hingga aku tak paham bagaimana membaca sajak-sajakmu
-ki 290309
to:semua yg berulang tahun aja
ujarku perihal usia
sederhana saja
:adalah sebuah kembang, tumbuh pada sebuah ruh
di jasad sang waktu
mata perjalanan yang syarat dan ketentuannya telah ditetapkan
entah di suatu ketika
ia bisa saja gugur tiba-tiba tiada
dan di setiap perulangan sebuah tahun
ia menjelma angka dengan kepala baru
dan hari ini ia membagimu hal itu
040309 -ki
biarkan ia jadi bara
dan kita mati bersama
terpanggang di kobarannya
230209
: ira puya l (090209)
katamu mulai lagi lembar baru hidupmu
kataku mulai susut lagi jatah umurmu
100209
PS:
hapy besdey ya sobat Love U..
kau dalam sebuah dada
serupa kerak ampas kopi
di cangkir yang retak
290109
puisi gagu
jeritan rindu
di catatan waktu
270109
pekat mengawan dingin memekak kalut
senandung malam kirimkan derap senyap picisan ke bait-bait sajak
membaca hitam tulisan tangan
sebuah elegi perjalanan kenyataan
langit-langit kamar gantungkan sepetak gambar samar
resah menggulana usik hasrat pejam dari puncak lelah
perihal dada : kepermanenan porak poranda sisa persinggahan lalu
antarkan kepingan rindu manja yang kisruh riuh mengaduh
seketika bola mata nyaris tenggelam
di laut yang mendadak merabung pada pelupuk
aku terasing di kedalaman diam
mencari keberadaan pembuat huru-hara pembuka catatan waktu
140109
selalu saja rindu untuknya membentuk kata
: sebuah puisi
120209
musim ini begitu beku
dingin yang begitu angkuh
terlihat dari paras hujan kaku
tiap kali ia berkunjung tanpa pemisi
tak sedikitpun hangat luruh dalam senyum
aku yang masih mengibarkan bendera putih di dada sebelah kiri
dan ratusan kabar luka di setiap kata
sejauh ini masih enggan angkat kaki dari pijakan
terpancang dalam lilit kelu
kebekuan semakin membatu
tak sanggup kucairkan dengan rupa yang bukan kamu
120109
kilau bintang bertebar di setiap sudut
terang meruah tampak megah
kata perkata tampak begitu bunyi
ternikmati
suaranya nyata menampakan raut-raut ria
di belakang gubuk remang
mata-mata yang berjelaga
menautkan arah pada sebuah bara
tertumpangi bertusuk-tusuk irisan daging mentah berbumbu
aroma nikmatnya membalut tawa di setiap kibasan angin
memenuhi dada dengan udara sangit dan debu malam
sengaja ingin di hirup panjang
agar remahan mendiami ruang
yang setiap saat dapat mereka ingat
ungkap kembali makna sebuah malam
dengan ujung harapan tentang doa usia cita
yang akan bertanggal setiap tahun berganti
apakah masih akan lagi menemukan sesuatu
di suatu malam lainnya ?
040109
sebuah titik sepi
mulai merengkuh diri
ketika kita tengah duduk berpelukan di beranda
aku hanya meraihmu samar
rasa di dada berguguran
bagai dedaun kering
terbang terbawa semilir angin
hilang
bahkan jemari pun tak pandai lagi
menjelmakan puisi yang kau minta
barang untuk satu rindu atau amarah
kepadamu
di pertemuan ini
kau hidangkan diam sebagai ciuman
tak ada aku di tatap matamu
dan kehambaran mengirim getar
di pucuk kegamangan menuju arah
di dalam puisimu kau mulai menjauh
juga perlahan kulihat langkahmu mengikutinya
perasaanku bilang
beranjakmu bukan untuk sejenak
mungkin sepenuhnya arti kata tersebut
di sebuah jeda
diam tampak mengagumkan
ajak nurani dan logika berpelukan
setelah sekian lama bermusuhan
pada sepasang mata
yang letih mengendapkan malam
dengan kebimbangan
seraut jiwa tegap tegas
jabarkan satu persatu reniknya
berjalan mencari terang
bukan akan tapi selalu
rebahkan harap ke pangkuan langit
hingga dekapakan terasa semakin hangat
leram dalam eramnya
dalam setiap detik
urainya selalu saja berderai
kedip masa lalu dan siluet masa datang
memekak indra
mengirimkan sulur-sulur
pada ilalang yang tak berkembang
di rimbun padang
remang
*post di My kapasitor juga
mencoba berlari
ke bibir hilir
mencari sepi dan dingin
terus bergilir
pun perlahan berjinjit
ke batas hulu
memikat nyawa pada rasa tawa
serba berambigu
sepasang kaki kurus
menampung letih
berpijak ragu
meniti siluet bayang
menuju rona seraut rupa
jangkau gemerlap bintang
di bening matanya
*post di My kapasitor juga
akhirnya pertemuan
hanya menyisa punggung sebagai muka
semakin mengecil di hadapan bola mata
lalu hilang terbasuh butiran bening airmata
perih pun menyempitkan ruang lapang di dada
hampa
tersenyum atau tataplah tuju adaku
sebagai isyaratmu dalam bentuk laku
agar mampu endapkan resah yang melanda
ketika setitik rasa sambangiku
getarkan rongga-ronga dada
untai bait-bait rindu di sisi malu
yang terasa mengganggu
di jumpa kali ini
membentuk gelagat kaku
yang tak terpapar dalam ucap
terbacakah tanda-tanda ini
ketika bibirku hanya terkatup
memendam deru asmara yang menggelora tak terungkap
dan jemari munggil berharap mampu raih hati
engkau sang terdamba sebagai kekasih pasti
10.nov.08
berapa nominal yang mesti aku pasang
dari sebuah kalkulasi rasa atau kata
semua yang terjelma haruskah ada alasan
pun hati punya cara sendiri tuk memaknai siapa
mungkin tak berharga juga adalah sebuah harga
dari pemahaman atau sangka
lalu harga apa ?
jika pada pintu sanubari birumu tak terbuka sebuah pinta tentang maaf
maka detik ini kutanggalkan semua rasa yang pernah ada dalam kata
debar suka atau sengguk duka tak sengaja yang pernah meruang
biar kulipat dalam kesendirian
dan senja nanti diujung tepi danau yang tak lagi bening
sebagai ucap pisah yang tak terangkai dalam sapa
ku tinggalkan sebingkai senyum disebongkah batu datar
dengan alas saputangan putih kusut tanda sebentuk air yang entah apa
pernah leram di rajut kainnya meski telah kering oleh silir angin
andai kau tahu sebasah apa
ketika pada saputangan itu sepasang mata terbenam
dengan sedu yang mengiris memilu
dan puisi ini tak perlu lahir
mengiringi pergiku
titik sunyi tak bercelah memekat aroma tetap
tajamnya ingatan menikam kepala bertubi-tubi
nyeri meraung, lara meruang menyiksa
mengarak limbung sepercik murka berselaput rindu menuju hati
meredam bongkahan luka terpaut pada sosok mata sayu
air pada mata kering, lumut rimbun ditepian pelupuk
racau ini hening terkantuk kenang biru asmara
apakah layar hitam yang kan terbawa sampai nafas habis
jika jelaga mentari senja dan purnama pun terabai pejaman mata
peka terkubur gamang yang tumbuh subur ladang jiwa
Label Kata
- Berada dalam kesintingan (20)
- Bermain kata dengan Resta Gunawan (2)
- catatan ga_perlu_tau mulai lagi (1)
- Dalam Riang (17)
- Dalam tulisan (34)
- sehelai kertas tertawa dengan lelaki senja (12)
- Sekedar berujar (39)
- Sekedar menanam kata (39)
- sekedar rupa-rupa (2)
- Setengahku (21)
Teman
Mengenai Saya
- Hijau
- Kota Senyum, Jawa Tengah, Indonesia
- Saya hanya perempuan yang ingin mengolah kata meski masih sangat Dini.. dan hanya seperti ini saja

